KPR, Metode Bahlul Berbelanja Rumah

Tetangga yang Baik dan Tetangga yang Jelek
August 1, 2017
Supaya KPR Syariah Tetap Syariah
August 20, 2017

KPR, Metode Bahlul Berbelanja Rumah

perumahan syariah surabaya

Aku menyesal sudah melakukannya—semoga allah subhanahu wa ta’ala memaafkan cacat saya—setelah aku mampu memahaminya, ternyata yang aku lakukan bertahun-tahun lalu ialah metode bahlul orang berbelanja rumah dengan angsuran bank.

oleh budhi wuryanto

berbelanja rumah dengan angsuran jangka panjang dari bank ternyata metode yang bahlul. aku enggak ingat apakah ratusan terlebih jutaan orang lainnya merasakannya pula. ataukah justru memandang kesuksesan, tersebab dengan pinjaman berbuah itu bisa menangani ketidakmampuan berbelanja rumah dengan cara kontan. bila juga kesuksesan, di baliknya terdapat kebodohan—karena dijalani sama jutaan orang, bukankah ini jahiliah yang membengkak?

seluruh akar persoalannya terdapat pada riba. riba juga yang dijadikan jalan keluarnya. riba, asal mula sekalian permasalahan hidup orang, sudah menyebabkan orang mayoritas enggak bisa mempunyai rumah dengan uang seorang diri, serta memaksanya untuk meminjam uang dari bank. untuk orang islam, berbelanja dengan kpr enggak cuma menjeratnya dalam pinjaman jangka panjang. akan tetapi yang lebih jelek dari itu—dan inilah yang aku sesali—juga sudah mengaramkan pemeluk islam dalam kubangan lumpur bunga bank nama lain riba!

riba sudah menyebabkan semua pikulan kehidupan jadi kian enggak tertanggungkan. biaya serta kadar apa pun jadi berlipat ganda imbas riba. berbarengan dengan bank mendagangkan kpr, kian melimpah tanah yang dikuasai oleh para pengelola bank dengan para pengembang. akhirnya, mempunyai rumah dengan uang seorang diri menjadi sebuah keglamoran.

nilai rumah kian enggak teraih. kpr yang awal ditujukan untuk rumah tipe 70 mesti diturunkan untuk tipe 60. turun lagi menjadi tipe 45, lalu tipe 36, serta lalu berkurang menjadi tipe 21. karna nilainya kian mahal, rumah tipe 21 itu pun cuma dapat dibeli oleh sedikit orang. tidak cuma tipenya berkurang serta nilainya kian mahal, posisi rumah kreditan pula kian jauh tempatnya, sehingga lebih melimpah lagi keluar biaya transportasi.

Dua kali lebih mahal

rumah aku diperoleh dengan sarana angsuran pemilikan rumah (kpr) sebuah bank konvensional. akad dijalani pada oktober 1996. jangka durasi kpr 20 tahun. rumah kreditan itu—tipe 36 serta luasnya 91 m2—ada di timur laut yogyakarta, sekeliling 30-an menit berkendara dari kota yogya.

dalam edaran, pengembang menuturkan uang mukanya rp 6, 8 juta. ternyata belum termasuk pajak pemasaran rp 2, 25 juta (10 persen dari plafon kpr ), biaya pencantuman instalasi listrik serta air minum, bonus asuransi kebakaran bersama selisih minimum rekening tabungan ( kurang lebih rp 500 ribu) yang mesti ada sebagai syarat meraih rumah itu—saldo minimum itu anggaran mati yang baru dapat didapat sehabis kpr lunas.

tidak cuma mesti mengikutkan akta administratif: kopi ktp serta kartu keluarga, berkas gaji dari yang dikeluarkan lokasi kerja aku, melunasi biaya administratif akad angsuran serta bonus asuransi kebakaran, bersama uang bagian depan minimum sepertiga besaran bayaran bulanan. hitung punya hitung, uang bagian depan serta biaya-biaya yang mesti aku beri uang akibatnya mendekati nyaris rp 14 juta. ini berarti dua kali lebih besar dari besaran uang muka yang terpasang dalam edaran kenaikan rumah kreditan itu. aku pegawai swasta, serta rumah yang aku inginkan itu katanya termasuk rumah non-rss. sehingga, aku mesti membelinya dengan kpr paket c yang suku bunganya menguntungkan (durasi itu sekeliling 19 persen/tahun, bunga berkurang ). bila terlalai mencicil, aku mesti melunasi dendanya, sebesar 10 persen dari besaran cicilan bulanan.

cicilan kpr pada lima tahun pertama jumlahya kurang lebih rp 260 ribu tiap bulan. pada tahun ke-15 (2011) berkurang menjadi kurang lebih rp 190 ribu. bila cicilan bulanan dirata-rata rp 200 ribu tiap bulan aja, berarti aku sudah melunasi kurang lebih rp 36 juta (rp 200 ribu x 180 bulan ).

plafon kpr aku rp 22, 5 juta. ditambah uang muka serta biaya administrasi serta persyaratan kpr, berarti nilai rumah itu, saat itu, sesungguhnya kurang lebih rp 36, 5 juta. jadi, sudah aku hitung, pada cicilan ke-180 (tahun ke-15) sesungguhnya aku tinggal menambah kurang lebih rp 500 ribu aja untuk melengkapi besaran yang serupa dengan nilai rumah itu.

akan tetapi faktanya, aku masih wajib mencicil lima tahun lagi. dengan anggapan cicilan bulanan rata-rata rp 150 ribu, aku masih punya tunggakan nyaris rp 9 juta. dengan begitu, rumah tipe 36 itu mesti aku bayar kurang lebih rp 45, 5 juta (rp 36, 5 juta + rp 9 juta ), alias kurang lebih dua kali besaran kpr yang aku dapat.

aku enggak menangisi besaran uang yang sudah alias mesti aku bayarkan lebih dari dua kali nilai rumah itu dibandingkan bila aku dulu membayarnya dengan cara kas. toh, rumah tetangga setipe rumah aku, pada 2011 dijual dengan nilai kurang lebih rp 100 juta. yang aku sesali, angsuran bank itu sudah melilit aku dengan riba jangka panjang. selagi angsuran itu belum aku lunasi, selagi itu juga aku bakal berkujut dalam riba bunga bank!

ketimbang aku harus berada dalam kubangan riba bank sepanjang 20 tahun, satu-satunya ambisi aku ialah membayar angsuran jangka panjang berlumur riba itu. aku mau lepas dari riba jahanam yang terwujud akibat jahiliah aku berbelanja rumah dengan angsuran bank jangka panjang itu.

di hari aku membayar tunggakan jangka panjang serta memblokir rekening tabungan, bank itu bakal kehilangan seseorang pelanggan. aku benar-benar percaya bank itu enggak berduka, karna cuma kehilangan satu orang pelanggan. tetapi aku bakal amat senang karna terbebas dari riba serta tunggakan.

aku bertawakal. hendaknya allah ta’ala meluluskan berkah aku untuk lekas lepas dari tunggakan jangka panjang itu. ***

*nasabah kpr bank konvensional, tinggal di sleman.

sumber: http://pengusahamuslim.com/5507-kpr-cara-bodoh-membeli-rumah.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *